Komisi IV: Rendeman Tebu Semestinya 12%

Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKS, Andi Akmal Pasluddin.
Jakarta (30/6) – Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Andi Akmal Pasluddin sangat menyayangkan turunnya rendeman tebu di wilayah Jawa, yang saat ini rata-rata hanya mencapai 5%. Padahal, rendeman tebu semestinya dapat mencapai 12%. Menurutnya, kondisi ini secara nasional dapat menurunkan produksi gula. Selain itu, juga dapat mempengaruhi sikap Pemerintah yang akan mengambil kebijakan import dalam tiga bulan ke depan.

“Kualitas mesin, kecepatan proses giling, dan tidak ada manipulasi data akan mampu menghasilkan rendeman tebu hingga 12 persen. Artinya, setiap 100 ton tebu, akan menghasilkan 12 ton gula. Ini pemerintah tinggal ada kemauan atau tidak," kata Andi Akmal, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta (30/6).

Politisi PKS asal Sulawesi Selatan ini menjelaskan, titik terjatuh dalam sejarah rendeman tebu pada 10 tahun terakhir hanya mencapai 5%. Dia mengungkapkan, rata-rata rendeman tebu sekitar 8 persen dan paling rendah yang terjadi pada tahun lalu yang mencapai 7 persen.

"Namun yang juga disesalkan adalah, maksimal rendeman tebu di pulau jawa hanya mencapai 9 persen," ujarnya.

Menurut Andi Akmal, saat inilah waktunya melakukan revitalisasi pabrik gula. Karena yang akan merasakan kerugian langsung akibat rendahnya rendeman adalah petani tebu.

Yakni, pertama terkait harga pokok penjualan (HPP) gula yang rendah, yakni hanya naik Rp400 dari Rp8.500 menjadi Rp8.900. Padahal, tambahnya, petani tebu menginginkan kenaikan HPP gula bisa mencapai Rp11.750.

"Yang kedua masalah rendeman yang sangat rendah. Dual hal ini yang menjadi hidup tidaknya aktivitas petani dalam menanam tebu," jelas Andi Akmal.

Lebih jauh Andi Akmal berharap, pemerintah menjadikan semua pabrik gula di Indonesia seperti pabrik gula Gunung Madu di lampung. Dengan lahan berupa hamparan luas sehingga dalam menyiram herbisida dilakukan dengan menggunakan pesawat. "Pangkalan udara pertanian sudah punya di daerah Subang," imbuhnya.

Andi Akmal mengemukakan, pihaknya tidak ingin Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui PT Perkebunan Nusantara (PTPN) gula melakukan manipulasi data demi deviden. "Semoga bukan itu. Namun meningkatkan efisiensi produksi gula dengan memperbaruhi mesin giling di pabrik gula dan perbaikan manajemen waktu giling harus ditingkatkan sehingga dapat mencapai rendeman gula 12 persen," pungkas Andi Akmal.
Share on Google Plus

About Unknown

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment